Tampilkan postingan dengan label Buah Hati. Tampilkan semua postingan
Tampilkan postingan dengan label Buah Hati. Tampilkan semua postingan

Rabu, 09 November 2016

ATASI TANTRUM PADA ANAK, Moms!

ATASI TANTRUM PADA ANAK, Moms!

Orangtua yang (pernah) memiliki anak berusia 0-3 tahun tentunya tak asing dengan perilaku ngambek, menangis, menjerit, bahkan memukul saat permintaan atau keinginan anak tidak kita penuhi. Ini rupanya merupakan hal yang terbilang wajar karena pada usia tersebut, anak sedang berada pada proses mengenal dan belajar menghadapi kekecewaan. Kalau begitu, apa yang melatarbelakangi timbulnya luapan emosi tersebut dan bagaimana mengatasinya?

Berikut hasil dari seminar tantrum oleh Bapak Toge Aprilianto yang beberapa saat lalu saya dan sugarenspice ikuti.

Temper tantrum atau yang kerap disingkat ‘tantrum’ sebenarnya merupakan cetusan atau letupan emosi yang tampil dalam bentuk perilaku agresif tak terkendali. Tantrum biasanya muncul saat terjadi situasi yang secara emosi mengecewakan, misalnya saat anak gagal mendapat apa yang ia inginkan atau saat permintaan anak ditolak oleh orangtua.

Letupan emosi saat berhadapan dengan situasi yang tak sesuai harapan ini dapat ditampilkan secara agresif terhadap orang lain (memaki, memukul, menendang, mengigit, menjerit, dsb) ataupun kepada diri sendiri (menyakiti diri sendiri). Selain itu, kekecewaan anak juga dapat ditampilkan secara pasif (menarik diri, ngambek, dll).

Tantrum dianggap berbahaya jika tampil dalam bentuk perilaku agresif baik menyakiti orang lain ataupun diri sendiri dimana tak jarang hal tersebut malah menimbulkan masalah baru akibat kerusakan yang dihasilkannya.

Latar belakang luapan emosi

Usia 0-3 tahun merupakan masa anak untuk berkenalan dan belajar menghadapi rasa kecewa saat apa yang ia kehendaki tak dapat terpenuhi. Rasa kecewa, marah, sedih dan sebagainya merupakan suatu rasa yang wajar dan natural. Namun kerapkali, tanpa disadari orang tua ‘menyumbat’ emosi yg anak rasakan. Misalnya saat anak menangis karena kecewa, orangtua dengan berbagai cara berusaha menghibur, mengalihkan perhatian, memarahi dsb demi menghentikan tangisan anak. Hal ini menurut sebenarnya membuat emosi anak tak tersalurkan dengan lepas. Jika hal ini berlangsung terus menerus, akibatnya timbullah yg disebut dengan tumpukan emosi. Tumpukan emosi inilah yg nantinya dapat meledak tak terkendali dan muncul sebagai temper tantrum.

Bagaimana mencegah?

Mengetahui bahwa emosi merupakan hal yg lumrah, kita sebagai orang tua disarankan agar memberi kesempatan kepada anak untuk menghayati dan merasakan kekecewaan, kesedihan, dan kemarahan mereka. Artinya, saat anak menangis kecewa atau merasa sedih kita hanya berperan untuk mendampingi, memeluk (jika dibutuhkan) dan menyatakan pengertian kita atas perasaan yang sedang anak rasakan tanpa memberikan intervensi apalagi berusaha menghentikan emosi tersebut. Kita juga dapat mengajarkan anak bentuk atau ekspresi emosi yang menurut kita (orang tua) dapat diterima, misalnya: boleh manangis, boleh berteriak dengan ditutup bantal, dll. Bentuk ini dapat kita tentukan sendiri sesuai dengan budaya dan kebiasaan masing-masing.

Mengatasi tantrum

Jika temper tantrum telah terlanjur muncul dalam bentuk perilaku yg membahayakan dan berpotensi menimbulkan kerusakan, maka tindakan intervensi harus segera dilakukan dan diharapkan tantrum ini sudah akan hilang sebelum anak berusia 3 tahun. Mengapa? Karena semakin besar anak, tenaga juga semakin kuat dan akan semakin sulit bagi orang tua untuk mengendalikan atau mencegah tingkah lakunya yang tak terkendali. Selain itu timbunan emosi ini juga dapat mengarah pada ‘kerusakan’ lain baik secara fisik ataupun bentuk perilaku berbohong, menyalahkan orang lain, menutup diri, merebut milik orang lain secara paksa dan sebagainya.

Langkah yg diambil saat tantrum terjadi:

Pegang anak erat-erat (tangan dan kaki) hingga dia tak dapat memukul/menendang dan melakukan hal berbahaya lain.
Jangan ajak anak berkomunikasi hingga anak selesai dengn usahanya untuk memberontak (hal ini termasuk jangan berteriak untuk menyuruh anak berhenti).
Dalam waktu 15-20 menit maka rata2 anak akan merasa letih dan berangsur tenang. Saat itulah anak dapat diajak berbicara.
Jelaskan mengapa kita memegangnya erat2 dan mengapa kita tidak memenuhi permintaannya.
Ajarkan anak bagaimana lain kali ia dapat menunjukkan kemarahannya.
Belajar memilih

Pada masa transisi dari masa ‘batita’ menjadi masa kanak2 (usia 3-6 tahun), penting bagi seorang anak untuk belajar mandiri/otonom sesuai dengan kapasitasnya. Kurangnya kesanggupan untuk mengatasi kekecewaan akan membuat anak senantiasa berbenturan dengan orang lain karena ia akan memaknai orang lain sebagai penyebab kesulitan atau ketidaknyamanan yang ia hadapi. Hal ini tentunya akan menyulitkan anak untuk berhubungan secara harmonis dengan orang lain karena akan senantiasa muncul tuntutan-tuntutan dari anak terhadap orang lain.

Hal ini dapat dihindarkan dengan cara mengajarkan anak sejak dini untuk memilih dan bernegosiasi. Tujuannya agar anak memahami bahwa tak semua keinginannya dapat terpenuhi dan bahwa pilihannyalah yang menentukan apa yang dapat ia peroleh dan apa yang tak dapat dia peroleh. Dengan demikian ia akan siap saat berhadapan dengan rasa kecewa saat salah satu keinginannya tak terpenuhi dan memahami bahwa hal tersebut merupakan akibat dari pilihan yang dibuatnya sendiri.

Contoh negosiasi:

Saat si A meminta mainan di toko, ajukan pilihan: beli mainan atau pergi ke Timezone?

Saat si A meminta menonton televisi, berikan syarat agar ia terlebih dahulu melakukan A, B, C dan kemudian dia akan diijinkan menonton televisi.

Tahapan mempelajari pilihan ini dimulai dari pilihan yg enak vs enak, enak vs tidak enak, hingga tidak enak vs tidak enak.

Well moms, semoga berguna ya. Saya juga lagi mencoba nih ….

*Dikirim oleh Ruf Lie, ibu dari Fausto (18 bulan) dan bayi usia 32 minggu didalam rahim

Sumber 

Minggu, 06 November 2016

BAHAYAKAH, STOMATITIS (SARIAWAN) PADA ANAK

BAHAYAKAH, STOMATITIS (SARIAWAN) PADA ANAK

STOMATITIS sering dikenal sebagai sariawan. Sariawan merupakan suatu kelainan selaput lendir mulut, yang ditandai adanya bercak luka berwarna putih pada dinding mulut, bibir atas, dan lidah. Sariawan memang bukan penyakit yang serius atau bahkan mengancam jiwa, tetapi kondisi ini sangat mengganggu. Walaupun ukurannya kecil dan letaknya tersembunyi di rongga mulut, sariawan bisa menimbulkan rasa nyeri hebat, sehingga membuat susah untuk makan dan berbicara.


Pada anak- anak,selain tidak mau makan, sariawan akan menyebabkan rewel sehingga akhirnya berat badan sulit naik atau penurunan berat badan. Stomatitis dapat terjadi pada mukosa mulut di daerah bibir atau pipi bagian dalam. Dapat terjadi pada lipatan gusi dengan daging pipi/bibir. Dapat juga terjadi pada langit-langit, di bawah lidah, permukaan lidah, bahkan terjadi pada tonsil (amandel).

Di dalam rongga mulut banyak terdapat bakteri dan jamur yang bisa menyebabkan sariawan. Faktor lain yang menyebabkan sariawan, antara lain kesalahan menggosok gigi. Apabila jika menggosoknya tidak benar dan tidak hati-hati. Selain itu, bisa disebabkan tergigit atau terjatuh. Penyebab stomatitis, antara lain infeksi. Yang sering adalah infeksi virus, misalnya Herpes simplex, cacar air, dan penyakit kaki tangan mulut (hand foot and mouth disease). Rasa perih dapat muncul 24 hingga 48 jam, yang bertahan hingga 3 hingga 4 hari. Kemudian baru tumbuh lembaran fibrin putih sehingga nyeri berkurang dan sembuh dalam 7-10 hari. Berikut ini beberapa jenis sariawan:

1. Stomatitis aphtousa. Sariawan yang paling banyak terjadi pada bayi dan anak, dan terjadi pasca trauma tergigit atau tergores sikat gigi.

2. Oral thrush (kandidiasis mulut. Disebabkan jamur Candida albicans, sering pada anak dengan daya tahan turun dan sering minum antibiotik jangka  lama (>7 hari), serta kebersihan mulut yang buruk.

3. Stomatitis herpetic. Stomatitis herpetic disebabkan virus Herpes simplex. Sariawan di tenggorokan terjadi jika ada virus yang mewabah dan daya tahan tubuh si kecil rendah.

4. Sariawan terkait penyakit hand, foot and mouth disease.Luka sariawan biasanya banyak dan sangat nyeri, timbul bersamaan dengan lesi kulit di  telapak tangan dan kaki.

Jika muncul gejala sariawan seperti itu, segera bawa ke dokter atau tenaga kesehatan untuk mendapatkan pengobatan.

Bagi bayi dan anak yang sudah makan, cara mencegah sariawan antara lain makan dengan tenang agar bibir atau lidah tidak tergigit. Minimal 2 kali sehari membersihkan mulut dengan sikat gigi dan benang gigi. Bila bersikat gigi, jangan terburu-buru serta ganti sikat gigi bila sudah tidak baik. Pastikan gigi dan mulut selalu terawat, berkumur dengan antiseptik jika ada gangguan sariawan, serta hindari stress. Perbanyak pula sayuran dan buah-buahan karena banyak mengandung vitamin C,B 2, B5, dan asam folat yang sangat bermanfaat mencegah sariawan.

Saat sariawan, bagi anak bisa dibebaskan dari makan nasi, pilih bubur bayi bergizi untuk sementara sehingga anak tidak mengunyah. Asupan susu/jus buah bisa diberikan dalam porsi lebih banyak daripada biasanya. Berikan suplementasi zinc, vitamin B kompleks, vitamin C, dan zat besi. Es krim bisa diberikan karena efek dingin cukup meredakan rasa perih dan mengandung nutrisi juga.

Suapi si kecil dengan perlahan-lahan dan sabar. Gunakan gelas minum karena dot bayi biasanya menyentuh sariawannya. Pada anak yang lebih besar, kumur air garam bisa sebagai antiseptik ampuh setara dengan obat kumur untuk membunuh kuman.

Penulis: MM DEAH Hapsari
BAHAYA KEBIASAAN MENGGIGITI KUKU PADA ANAK

BAHAYA KEBIASAAN MENGGIGITI KUKU PADA ANAK

MENGIGITI kuku merupakan salah satu kebiasaan yang umum dikeluhkan orangtua. Sekitar 30 sampai 60 persen anak melakukan kebiasaan menggigit kuku pada suatu saat dalam hidupnya. Kebiasaan ini umumnya mulai tampak sekitar usia 3 sampai 6 tahun, tetapi kejadiannya meningkat menjelang usia remaja. Kebanyakan anak akan menghentikan sendiri kebiasaan ini, tetapi sebagian kecil terus melakukannya hingga menginjak usia dewasa.
Agak sulit menentukan apa yang menjadi pencetus awal mula kebiasaan menggigit kuku pada anak. Kebiasaan menggigit kuku sering kali tampak ketika anak sedang dalam keadaan stres atau cemas. Perasaan stres atau cemas tersebut mungkin dapat terjadi dalam berbagai keadaan, misalnya ketika tidak mengerti suatu bagian pelajaran, membaca cerita sedih atau seram, dipaksa melakukan sesuatu yang tidak disukai, atau kesepian.

Secara umum, kebiasaan menggigiti kuku bukan sesuatu yang mengkhawatirkan karena akan berhenti sendiri terutama bila tidak ada pemicunya. Namun demikian, mungkin diperlukan penanganan khusus apabila kebiasaan ini terjadi bersamaan dengan masalah lain. Kebiasaan menggigiti kuku dapat meningkatkan risiko perubahan susunan gigi yang disebut maloklusi, terutama pada deretan gigi bagian depan. Selain itu, kebiasaan menggigiti kuku yang berkepanjangan dapat menyebabkan retakan kecil pada gigi, maupun radang gusi. Apabila terjadi infeksi pada kuku akibat bakteri atau jamur, kebiasaan menggigit kuku dapat menyebarkan infeksi tersebut ke rongga mulut.

Untuk menghentikan kebiasaan ini diperlukan motivasi yang timbul dari diri si anak sendiri. Penting untuk tidak memarahi atau menghukum anak karena melakukan kebiasaan ini, karena justru kemungkinan akan menyebabkan anak melanjutkan kebiasaan ini sebagai bentuk meminta perhatian.

Anak perlu menyadari nilai positif yang timbul apabila ia menghentikan kebiasaannya sehingga penghargaan yang diberikan ketika ia tidak menggigiti kukunya kemungkinan akan lebih berhasil membantunya berhenti. Anda juga dapat memperkenalkan beberapa hal yang mungkin menjadi motivasi anak untuk berhenti menggigiti kukunya.

Apabila tampak jelas anak menggigit kukunya karena stres atau cemas, Anda dapat membantunya mengatasi masalah yang menimbulkan kecemasan tersebut. Dengan kata lain, sedikit tambahan perhatian, kasih sayang, dan waktu berkualitas mungkin cukup untuk membantu anak menghentikan kebiasaannya menggigiti kuku.

Bermain bersama atau melakukan aktivitas di luar juga dapat membantu meredakan ketegangan dan stres pada anak.Mengingat tujuannya adalah untuk meredakan ketegangan, sebaiknya hukuman fisik, ancaman atau bentakan dihindari selama bermain, walaupun dilakukan dalam keadaaan bercanda.

Pemakaian zat-zat pahit di kuku dengan harapan menghentikan kebiasaan anak menggigiti kuku tidak selalu berhasil. Pada anak- anak yang lebih muda dan belum cukup banyak mengerti, kuku yang terasa pahit saat akan digigit atau diisap mungkin dapat menyebabkan kegelisahan yang lebih parah. Anda dapat mencoba membalurkan minyak zaitun agar kuku menjadi lebih lunak sehingga anak menjadi kurang tertarik untuk menggigiti kuku.

Menjaga kuku tetap pendek dan rapi juga merupakan salah satu solusi karena mengurangi godaan untuk menggigiti ujung kuku atau kutikula yang tidak rapi. Pengalihan perhatian dapat membantu anak menghentikan kebiasaan menggigiti kukunya. Hal yang tidak kalah penting dalam membantu anak yang menghentikan kebiasaan menggigiti kuku adalah suasana rumah dan keluarga yang bahagia dan mendukung secara positif.

Penulis : Catharine Mayung Sambo